Tentang kabel tembaga dan teknologi xDSL

Posted: Mei 20, 2009 in Uncategorized

Pengantar Asymmetric Digital Subscriber Line (ADSL)

Apabila Kita memperhatikan perkembangan teknologi telekomunikasi

saat ini, maka hampir dapat dipastikan perkembangan yang paling

pesat dalam teknologi telekomunikasi di masa mendatang adalah

multimedia.

Secara terminologi multimedia dapat diartikan sebagai banyak media.

Oleh karena itu layanan yang dibuat bisa dilewatkan melalui banyak

media. Sedangkan secara definitif, multimedia diterjemahkan sebagai

integrasi dari suara, data dan gambar.

Ciri layanan multimedia yang paling utama adalah kebutuhan akan

bandwidth yang sangat besar. Kebutuhan akan bandwidth inilah yang

pada awalnya menjadi permasalahan pada sisi jaringan akses. Akan

tetapi setelah ditemukannya serat optik sebagai media transmisi

dengan kapasitas sangat besar maka permasalahan di atas secara

teknis dapat diatasi.

Namun ironisnya mayoritas jaringan yang tergelar sekarang ini

menggunakan jaringan kabel tembaga. Karenanya dibutuhkan suatu

“injeksi teknologi” untuk meningkatkan kemampuan kabel tembaga

dalam mentransmisikan sinyal informasi.

Sekilas terkesan sangat kontradiktif apabila kita membicarakan kabel

tembaga sebagai media akses dalam komunitas layanan berjalur lebar,

karena kabel tembaga mempunyai keterbatasan dalam

mentransmisikan sinyal berpita lebar.

Sementara itu, dalam sepuluh tahun terakhir ini telah dikembangkan

sejumlah teknik signal processing untuk meningkatkan bit rate dari

transmisi dijital melalui kabel tembaga. Digital subscriber line (DSL)

adalah teknologi modem yang menggunakan saluran telepon twisted

pair existing untuk mentransmisikan data berpita lebar.

Perkembangan dari DSL ini adalah teknologi xDSL yaitu “seri teknologi

broadband” yang memanfaatkan media kabel tembaga untuk

mengalirkan layanan/service berpita lebar. Pada akhirnya teknologi

xDSL ini menjadi suatu teknologi alternatif yang patut

dipertimbangkan secara teknis maupun ekonomis dalam kancah era

multimedia.

Perkembangan Teknologi Jaringan Kabel Tembaga

Kita telah mengetahui modem-modem yang biasa beredar di pasaran

(voice-grade data modem) menggunakan kabel tembaga sebagai

media transmisi fisiknya atau dapat juga dikatakan menggunakan

media transmisi fisik akses tembaga. Voice-grade modem umumnya

mempunyai kecepatan transmisi 28,8 kbps melalui saluran telepon

biasa. Dua puluh tahun yang lalu, karena keterbatasan di lapangan,

kecepatannya hanya berkisar pada 1,2 kbps. Mungkin dulu tidak ada

yang percaya bahwa kecepatan modem bisa mencapai kecepatan 33,6

kbps seperti pada saat ini. Bagaimanapun juga voice-grade modem

masih belum melewati batas lebar pita 3,4 kHz. Sebagai contoh

modem V.34 yang mampu mengalokasikan 10 bit/hz lebar pita,

merupakan suatu gambaran yang cukup menarik dan merupakan

pengembangan produk teknologi yang berupaya mendekati batasbatas

teoritis. Bukan hanya itu, modem V.34 mampu mengirim dan

menerima data secara simultan dalam pita frekuensi yang sama.

Bahkan saat ini modem US. Robotics dengan teknologi X2TM telah

mampu mencapai kecepatan transmisi 56,6 kbps melalui saluran

telepon biasa. Hal ini bisa dicapai sebagai hasil perkembangan yang

begitu maju dari algoritma komunikasi data, pemrosesan sinyal dijital

dan teknologi semikonduktor.

Voice-grade modem beroperasi pada titik pelanggan pada saluran

suara biasa dan mentransmisikan sinyal melalui core network

(jaringan switching utama). Jaringan memperlakukannya persis sama

seperti pada sinyal suara. Ini merupakan keunggulan utamanya,

walaupun berkecepatan lebih rendah, namun dapat disambungkan di

mana saja asalkan ada saluran telepon yang tersedia.

Keterbatasan lebar pita dari kanal suara terutama bukan dikarenakan

oleh saluran pada sisi pelanggan, tetapi disebabkan oleh core network.

Filter pada core network membatasi lebar pita pada kanal suara

sekitar 4,4 khz. Jika tanpa hambatan dari filter ini maka kabel

tembaga (jaringan akses tembaga) mampu melewatkan frekuensi

pada daerah Mhz, meski akan mengalami redaman yang cukup besar.

Redaman yang akan meningkat berbanding lurus dengan kenaikan

frekuensi dan panjang saluran, merupakan faktor pembatas utama

dalam peningkatan kecepatan transmisi data.

Sekilas perkembangan teknologi jaringan akses yang memanfaatkan

kabel tembaga untuk menyalurkan informasi pita lebar adalah sebagai

berikut :

a. Digital Subscriber Line (DSL)

Adalah modem yang biasa digunakan pada layanan ISDN basic rate.

DSL akan mentransmisikan data secara duplex (dalam dua arah

sekaligus), pada kecepatan 160 kbps melalui kabel tembaga (saluran

telepon biasa) dengan rentang sampai 6 km, melakukan multiplex dan

demultiplex aliran data ini dalam 2 kanal B (masing-masing 64 kbps),

satu kanal D (16 kbps) serta mengikutsertakan beberapa overhead

yang diperlukan oleh perangkat terminal. Berdasarkan standar ANSI

T1.601 atau ITU I.431 DSL juga menggunakan echo canceller untuk

memisahkan sinyal yang diterima yang berasal dari pantulan sinyal

yang dikirim. Berikut tabel perkembangan Teknologi DSL:

Jenis Teknologi Akses Bit rate Mode Aplikasi

Digital Subscriber Line

(DSL)

160 kbps duplex ISDN, komunikasi data,

suara

High data rate Digital

Subscriber Line (HDSL)

1,544 Mb–2,048 Mb duplex Layanan T1/E1, WAN,

LAN, akses server

Single line Digital

Subscriber Line (SDSL)

1,544 Mb – 2,048

Mb

duplex Sama dengan HDSL

ditambah akses dasar

pada layanan simetris

16 kbps – 640 kbps upstre

am

Asymmetric Digital

Subscriber Line (ADSL)

1,544 Mb – 8 Mbps downs

tream

Akses internet, video on

demand, akses remote

LAN, Multimedia interaktif

1,5 Mbps – 2,3 Mbps upstre

am

Very high data rate Digital

Subscriber Line (VDSL)

13 Mbps – 52 Mbps downs

tream

Sama dengan ADSL

ditambah dengan HDTV

b. High data rate Digital Subscriber Line (HDSL)

Merupakan teknologi lanjutan dari DSL dan menggunakan 2 twisted

pair cooper cable. HDSL cukup baik digunakan untuk menyalurkan

sinyal T1 atau E1. HDSL menggunakan lebar pita yang lebih sempit

dan tidak membutuhkan repeater seperti saluran T1 atau E1 pada

umumnya. Biasanya perangkat pada saluran E1 atau T1 menggunakan

protocol AMI (self-clocking Alternate Mark Inversion) dan

membutuhkan repeater pada jarak 1000 meter dari sentral dan tiap

2000 meter selanjutnya. AMI membutuhkan lebar pita 1,5 MHz pada

T1 sedangkan untuk E1 adalah 2 MHz. Dengan menggunakan modulasi

yang lebih baik maka HDSL mampu mentransmisikan sinyal pada

kecepatan 1,544 Mbps atau 2,048 Mbps hanya dengan menggunakan

lebar pita 80 kHz sampai 280 kHz, tergantung pada teknik modulasi

dan pengkodeannya. HDSL mampu menyalurkan sinyal tanpa repeater

pada kabel tembaga sampai sejauh 4 km, tentu saja dengan

menggunakan 2 kabel untuk T1 dan 3 kabel untuk E1, yang masingmasing

beroperasi pada kecepatan separuhnya atau sepertiganya.

Aplikasi tipikal untuk HDSL adalah seperti koneksi PBX, stasiun antena

selular, sistem DLC yang telah cukup matang dalam memberikan

layanan dengan bit rate di atas 1 Mbps, dan telah banyak dipakai

dalam aplikasi remote LAN access serta internet.

c. Single line Digital Subscriber Line (SDSL)

SDSL akan banyak dibutuhkan pada aplikasi yang memerlukan akses

simetris dan karena itu dapat dikatakan bahwa layanan SDSL adalah

komplementari dari aplikasi ADSL. Hal yang perlu diperhatikan bahwa

jangkauan dari SDSL tidak akan melebihi 3000 m, di mana pada jarak

tersebut ADSL mampu mencapai bit rate 6 Mbps.

d. Asymmetric Digital Subscriber Line (ADSL)

Teknologi ini memiliki bit rate yang berbeda antara arah kirim

(upstream) dan arah terima (downstream). Kecepatan upstream-nya

berkisar antara 16 kbps hingga 640 kbps, sedangkan kecepatan

downstream-nya antara 1,544 Mbps hingga lebih dari 7 Mbps.

Karenanya ADSL sangat ideal untuk layanan internet/intranet, video

on demand dan remote LAN access. Karena biasanya penggunapengguna

aplikasi tersebut lebih banyak membutuhkan menerima

informasi/download daripada mengirim informasi.

e. Very high data rate Digital Subscriber Line (VDSL)

Pada awalnya VDSL mempunyai nama Very high data rate Asymmetric

Digital Subscriber Line (VADSL) karena mereka menganggap VDSL

tidak akan menggunakan transmisi simetris dan sudah pasti asimetris

sehingga tak perlu membagi dalam dua nama, VDSL (untuk simetris)

dan VADSL (untuk asimetris). VDSL akan menyalurkan data secara

asimetris pada kecepatan transmisi yang lebih cepat daripada ADSL

dengan panjang saluran yang lebih pendek. Secara umum VDSL

diproyeksikan untuk memiliki kecepatan downstream dan upstream

sebagaimana diperlihatkan dalam tabel 1. Masih banyak hal yang perlu

diperjelas dalam VDSL, baik mengenai standar, service environment,

antar muka juga mengenai biaya.

Arsitektur ADSL

Sirkit ADSL akan saling menghubungkan tiap ujung dari modem ADSL

pada saluran telepon biasa (kabel tembaga) dan membuat tiga kanal

informasi. Kanal downstream kecepatan tinggi, kanal duplex

kecepatan menengah dan kanal POTS. Kanal POTS dipisah oleh

modem dijital dengan filter, untuk menjamin uninterrupted POTS.

Kanal kecepatan tinggi pada kecepatan 1,544 Mbps – 6 Mbps, dan

duplex pada kecepatan 16kbps – 640 kbps. Tiap kanal dapat di

submultiplex, sehingga dapat dibentuk multiplikasi kanal-kanal dengan

bit rate yang lebih rendah. Berikut tabel karakteristik ADSL

berdasarkan kabel yang digunakan :

Data rate (Mbps) Jenis kabel (AWG) Ukuran kabel (mm) Jarak (km)

1,5 atau 2 24 0,5 5,5

1,5 atau 2 26 0,4 4,6

6,1 24 0,5 3,7

6,1 26 0,4 2,7

Kecepatan downstream tergantung oleh beberapa faktor, termasuk

panjang dari kabel tembaga, ukuran kabel, kualitas sambungan fisik

dari kabel dan interferensi kopling silang. Redaman saluran akan

berbanding lurus sesuai pertambahan panjang saluran dan frekuensi,

dan akan mengecil bila diameter kabel bertambah. Dengan

mengabaikan pengaruh kualitas sambungan maka ADSL mempunyai

karakteristik sebagaimana diperlihatkan tabel di atas. Berikut

konfigurasi umum ADSL :

Konfigurasi ADSL secara umum adalah sebagaimana diperlihatkan

gambar di atas. Digital Subsriber Line Access Multiplexer (DSLAM)

adalah perangkat multiplexer pada penyelenggara jasa/sentral,

sedangkan pada sisi pelanggan terdapat Customer Premises

Equipment (CPE). Keduanya dihubungkan oleh line telepon, di mana di

antara keduanya terdapat pots splitter (di sisi penyelenggara/sentral)

dan microfilter (di sisi pelanggan) yang berfungsi membagi frekuensi.

Frekuensi rendah dialirkan ke line analog, sedangkan frekuensi tinggi

adalah untuk service ADSL.

Banyak aplikasi akan mendapatkan manfaat dari keunggulan ADSL

terutama dalam digital compressed video. Sebagai sinyal real time,

sinyal video dijital tidak dapat menggunakan prosedur error control

pada level link atau network yang biasanya dipakai dalam sistem

komunikasi data yang umum. Sedangkan modem ADSL mampu

memberikan forward error corection yang secara dramatis mampu

mengurangi error yang diakibatkan oleh impulse noise. Error yang

berbasiskan simbol demi simbol juga akan banyak mengurangi

kesalahan yang ditimbulkan oleh continuous noise yang terjadi pada

saluran.

ADSL menggunakan teknologi pengolahan sinyal dijital yang begitu

canggih serta menggunakan algoritma yang mampu menciptakan

penyaluran data pada kecepatan sangat tinggi melalui kabel tembaga

biasa.

Teknik line coding yang digunakan adalah Carrierless Amplitude/Phase

Modulation (CAP) atau Discrete Multi Tone (DMT). Teknik line coding

CAP dan DMT memberi keuntungan di mana sistem lebih tahan

terhadap derau / noise atau interferensi. Di samping itu dengan

menggunakan DMT, memungkinkan ADSL menjadi rate adaptive

(kecepatan transmisi dapat berubah relatif mengikuti performansi

jaringan kabel tembaga yang digunakan sebagai media transmisinya).

Dengan DMT juga memungkinkan proses inisialisasi jaringan untuk

menentukan sampai pada tingkat kecepatan berapa jaringan tembaga

dapat mentransmisikan data dengan aman. Sementara pada teknik

konvensional, jika performansi kabel turun kualitasnya, maka sinyal

yang di modulasi/demodulasi oleh modem akan rusak.

Asymmetrical Digital Subscriber Line (ADSL) merupakan suatu teknologi transmisi di jaringan akses dimana kecepatan pengiriman sinyal upstream dan downstream bersifat tidak simetrik atau asymmetric. ITU-T sebagai badan standar internasional telah merekomendasi besarnya kecepatan (bit rate).pengiriman sinyal pada ADSL yaitu 64 Kbps hingga 640 Kbps untuk sinyal arah upstream dan 1.5 Mbps hingga 6 Mbps untuk sinyal arah downstream. Dengan teknologi ADSL ini kebutuhan pelanggan terhadap layanan-layanan yang berupa suara, data maupun video dapat dipenuhi dengan mudah tanpa mengalami banyak perubahan infrastruktur karena media transmisi yang digunakan pada teknologi ADSL ini masih berupa jaringan kabel tembaga. Hal inilah yang merupakan suatu rekomendasi, mengapa ADSL dipilih sebagai salah sate teknologi jaringan akses masa depan untuk menyalurkan layanan pitalebar.

Meskipun pengimplementasian ADSL dapat mengoptimalkan kondisi jaringan kabel yang sudah ada dan dapat menghemat biaya investasi namun kehandalan jaringan kabel tersebut dalam menyalurkan layanan dari Sentral ke Pelanggan masih memiliki keterbatasan-keterbatasan. Beberapa hal yang menjadi tolok ukur kehandalan jaringan kabel tersebut adalah quality of service (QoS) selama penstramisian melalui media kabel tembaga, jarak jangkau atau panjang kabel untuk mencapai area layanan (pelanggan), pengaruh cakap-silang (crosstalk) yang mungkin terjadi antara kabel yang sating berdekatan dan pengaruh interferensi terhadap gelombang radio di sekitarnya. Disamping itu, kunci keberhasilan terhadap unjuk kerja jaringan kabel tembaga pada pengimplementasian ADSL ditentukan juga oleh kualitas material/bahan kabel tembaga yang digunakan, proses instalasi/penggelaran dan pemeliharaan jaringan kabel dengan benar.

Pembahasan dalam thesis ini lebih difokuskan pada analisa dan perhitungan performansi jaringan akses dalam menyalurkan layanan menggunakan teknologi ADSL berbasis parameter yang dipersyaratkan. Thesis ini juga memberikan beberapa pertimbangan untuk memperoleh batasan jarak jangkauan dan batasan cakap-silang pada jaringan kabel pelanggan. Sehingga dengan analisa dan perhitungan ini akan dapat diketahui performansi jaringan akses kabel tembaga dalam menyalurkan layanan pitalebar.

Masalah – masalah dalam Jar lok at

  • Sambungan kabel
    • Satu gulung kabel ( haspel ) primair max 100 m
    • Digelar digorong – gorong jalan ( kabel bawah tanah)
    • Perlu penyambungan yang dilakukan dalam Man Hole
    • Man Hole akan terendam air, maka penyambungan harus baik dan terlindung( kedap air ). ®  kalau tidak akan cross talk.
    • Ada pompa udara dari sentral kedalam kabel primair
  • Masalah saluran penanggal
    • Kena benang layang – layang ® luka, kena udara , karat dan putus.
    • Saluran penanggal diperkuat oleh kawat besi.
About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s