Perbandingan Web 1.0 dan 2.0

Posted: Mei 20, 2009 in Uncategorized

Perbandingan Teknologi Web 1.0 dan Web 2.0
Sebelumnya, kita definisikan dulu apa itu Web. Web adalah suatu ruang informasi di mana sumber-sumber daya yang berguna diidentifikasi oleh pengenal global yang disebut Uniform Resource Identifier (URL).
Sebenarnya tidak ada kesepakatan adanya versi dalam aplikasi web, namun untuk memudahkan pembahasan dan menandai munculnya perkembangan teknologi web, banyak praktisi yang memberi label Web 1.0 dan Web 2.0. Perbandingan di bawah ini dibuat dari berbagai sumber agar dapat menjelaskan perbedaan antara Web 1.0 dengan Web 2.0 dengan lebih sistematis.
Yang menjadi kunci perbedaan dalam Web 2.0 dan Web 1.0 adalah keterbatasan pada Web 1.0 yang mengharuskan pengguna internet untuk datang ke dalam website tersebut dan melihat satu persatu konten di dalamnya. Sedangkan Web 2.0 memungkinkan pengguna internet dapat melihat konten suatu website tanpa harus berkunjung ke alamat situs yang bersangkutan. Kemampuan web 2.0 dalam melakukan aktivitas drag and drop, auto complete, chat, voice dapat dilakukan layaknya aplikasi desktop.
Web 1.0 merupakan web yang statis dan hanya bisa kita baca. Secara umum, Web 1.0 dikembangkan untuk pengaksesan informasi dan memiliki sifat yang sedikit interaktif.Gampangnya, ini adalah web satu arah, “read-only”, dan kita sebagai pengunjung tidak bisa berbuat apa-apa di dalamnya selain membaca dan melihat apa yang tertulis di situ. Kita tidak bisa menambahkan komentar atau apapun karena Web 1.0 tidak mendukung sistem tersebut.
Elemen-elemen yang biasa digunakan dalam Web 1.0 adalah:
Halaman statis
Framesets
Tombol GIF
Contoh yang paling gampang dalam Web 1.0 adalah situs-situs pribadi. Berbeda dengan blog, situs pribadi hanya berpusat pada satu orang dan kita tidak bisa memberikan tanggapan di dalamnya.
Lalu, tak lama kemudian muncullah Web 2.0 yang merupakan revolusi bisnis di industri komputer yang disebabkan oleh penggunaan internet sebagai platform, juga merupakan suatu percobaan untuk memahami aturan untuk mencapai keberhasilan platform baru. Web 2.0 menawarkan komunikasi yang bersifat dua arah. Maksud dari sistem komunikasi dua arah adalah pemilik memberikan informasi, kemudian pengunjung bisa meninggalkan/menambahkan sesuatu di dalamnya. Atau bisa kita sebut web 2.0 sebagai web “read-write”
Versi ini juga sudah menggunakan Rich-Internet Applications seperti AJAX, Flash, Flex, Java, Silverlight, dan beberapa lainnya. Aplikasi-aplikasi ini berguna untuk meng-update salah satu bagian web tanpa harus me-refresh seluruh halaman.
Secara fungsional, web 2.0 dibuat berdasarkan rancangan web server yang telah tersedia, akan tetapi menitik beratkan pada penggunaan software. Dalam web 2.0 juga terdapat beberapa sindikasi seperti RSS (Really Simple Syndication), Atom, dan masih banyak lagi yang disimpan dalam format XML (eXtended Markup Language).
Contoh dari web 2.0 adalah blog (WordPress, Blogger, Dagdigdug), keluarga wiki (Wikipedia, Wikimapia, dll), situs social-networking (Facebook, Friendster, Multiply), dan situs-situs sejenis.
Era Web 2.0 tidak membutuhkan orang jenius yang hanya berkutat sendiri di ruang tertutup atau laboratorium untuk membuat teknologi baru yang dipatenkan agar membuat dirinya menjadi terkenal. Tapi era ini lebih membutuhkan orang untuk saling berbagi ilmu, pengalaman atau lainnya sehingga terbentuk komunitas online besar yang menghapuskan sifat-sifat individu.
Sedangkan letak perbedaan Web 1.0 dan Web 2.0 yaitu :
No Perbedaan web 1.0 web 2.0
1 Perilaku pengguna Membaca Menulis
2 Pelaku utama Perusahaan Pengguna/Komunitas
3 Hubungan dengan server Client-server Peer to peer
4 Bahasa pemrograman penampil konten HTML XML
5 Pola hubungan penerbit-pengguna Searah Dua arah/ Interaktif
6 Pengelolaan konten Taksonomi/direktori Folksonomi/penanda/tag
7 Penayangan berbagai kanal informasi Portal RSS/Sindikasi
8 Hubungan antar pengakses Tidak ada Berjejaring
9 Sumber konten Penerbit/pemilik situs Pengguna
wires wireless
Netscape Google
web forms web applications
dialup broadband
hardware costs bandwidth costs
banner ads Adsense
text video
static web social web

Contoh perbedaan aplikasi
web 1.0 web 2.0
DoubleClick Google AdSense
Ofoto Flickr
Akamai BitTorrent
mp3.com Napster
Britannica Online Wikipedia
personal websites blogging
evite upcoming.org and EVDB
domain name speculation search engine optimization
page views cost per click
screen scraping web services
publishing participation
content management systems wikis
directories (taxonomy) tagging (“folksonomy”)
stickiness syndication

Perbandingan aplikasi Web 1.0 dengan Web 2.0 digambarkan dalam bagan diatas. Web 1.0 menggambarkan hubungan yang searah, statis, dan saling berdiri sendiri antara pemilik/penerbit situs dengan pembacanya dengan fokus adalah “saya” sebagai pemilik situs dan situs itu sendiri. Dalam aplikasi Web 2.0, terdapat hubungan yang saling berjejaring antara pemilik maupun pembaca, bahkan “Anda” sebagai pembaca adalah fokus.
Teknologi Web 3.0
Konsep ini dapat diandaikan sebuah website sebagai sebuah intelektualitas buatan (Artificial Intelegence). Aplikasi – aplikasi online dalam website dapat saling berinteraksi, kemampuan interaksi ini dimulai dengan adanya web service.
Di web 3.0 ini, sudah terjadi konvergensi yang sangat dekat antara dunia TI dengan dunia telekomunikasi. Dunia web dan telco berkembang pesat seiring dengan kebutuhan pengguna. Penggunaan perangkat TI dan telekomunikasi nantinya sudah seperti sama saja tidak ada bedanya. Saat ini saja pertanda seperti itu sudah mulai bisa kita rasakan walaupun masih belum sempurna. Kita bisa menonton televisi di ponsel atau komputer, bisa mengakses internet di ponsel, bisa melakukan SMS dan telepon dari komputer. Ya karena konvergensi terhadap berbagai perangkat seperti hukum alam yang tidak bisa dielakkan. Semua mengalami evolusi menuju dunia yang lebih maju.
Saat ini adaptasi Web 3.0 mulai dikembangkan oleh beberapa perusahaan di dunia seperti secondlife, Google Co-Ops, bahkan di Indonesia sendiri juga sudah ada yang mulai mengembangkannya, yaitu Li’L Online (LILO) Community.
Permasalahan lain yang potensial muncul adalah, sebagai teknologi masa depan, Web 3.0 juga membutuhkan kecepatan akses Internet yang memadai dan spesifikasi komputer yang tidak enteng, hal ini disebabkan tak lain karena teknologi ini secara visual berbasis 3D. Sedangkan seperti yang kita tahu biaya akses Internet dengan kecepatan tinggi di Indonesia ini masih terbilang mahal bagi masyarakat umum. Belum lagi jika dihitung dari biaya spesifikasi perangkat komputer yang dibutuhkan, mungkin masyarakat Indonesia yang ingin menikmati kecanggihan layanan berbasis teknologi Web 3.0 masih harus menunggu. Namun karena Web 3.0 sendiri masih dalam pengembangan, seiring dengan berlalunya waktu sebagai masyarakat Indonesia kita masih bisa mengharapkan bahwa biaya komunikasi, dalam hal ini koneksi Internet kecepatan tinggi akan semakin murah nantinya, sehingga terjangkau bagi masyarakat luas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s